Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api.
Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam kepada Syekh Nur Jati dan menetap bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut.
Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.
Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana.
Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga.
Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang)
Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati.
Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.
Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran tersebut, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon.
Pangeran Gesang/ki Gede Gesik berkedudukan di gesik. Tengah tani mempunyai tiga anak laki-laki dan satu orang anak perempuan yaitu ki Jagabaya, ki Sumerang, ki Baluran dan nyi Mertasari. Ketika menginjak dewasa, keempat anak itu meminta untuk menguasai tanah cakrahan yang dimiliki ayahnya jauh sebelum dilaksanakan babad hutan. Atas permintaan anak-anaknya itu Ki Gede Gesik mengadakan perundingan dengan Ki Kutub (Sunan Gunung Jati) dan ki sangkan (Ki Kuwu cirebon), yang hasilnya di terima dan disetujui bersama.
Ki Gede Gesik selanjutnya memerintahkan keempat anaknya untuk membagi tanah cakrahan miliknya yang terletak di bagian utara perbatasan tanah cirebon di sertai seorang utusan Ki Kutub yang bernama Ki Warga asal Danalaya, guna menyaksikan dan memberikan pertimbangan dalam pembagian tanah itu.
Setelah sampai di tanah cakrahan yang akan dibagikan, mereka menemui jalan buntu karena ketiga anak laki-laki mempunyai pendirian bertentangan dengan saudaranya yang permpuan.
Ketiganya berpendirian bahwa pembagian untuk anak laki-laki harus berbeda dengan perempuan. Anak perempuan cukup mendapat tanah payung. Tentu saja pendirian ketiga saudaranya itu ditentang nyi mertasari, karea menurutnya pembagian harus sama luas. Pertentangan pendapat ini cukup memakan waktu lama dan kecil harapan dapat diselesaikan, sedang ki Warga sendiri tidak sanggup lagi mengatasinya.
Oleh karena cukup lama tidak ada kabar berita, Ki Kutub sangat khawatir akan keselamatan Ki Warga dan selanjutnya memerintahkan Ki Panunggul asal pajajaran menyusul ke tanah cakrahan untuk mengetahui keberadaan mereka.
Setelah mendapat keterangan Ki Warga bahwa pembagian tanah cakrahan belum terlaksana bahkan menimbulkan percekcokan, Ki Panunggul membuat kebijakan dengan mengaakan sayembara yang diterima semua pihak dimana Ki Panunggul bertindak sebagai juri dan Ki Werga sebagai saksi. Di katakan oleh Ki Panunggul kepada mereka bahwa “barang siapa diantara mereka dapat mendatangkan jenis-jenis hewan isi hewan isi hutan, maka tanah cakrahan ayahnya seluruhnya menjadi miliknya .”
Berturut-turut sayembara dimulai dari Ki Jagabaya dan terakhir Nyi Mertasari.
- Ki Jagabaya: dalam waktu sekejap dapat menghadirkan kuda berekor panjang berkerocok baja, dan seekor anjing berbulu tebal.
- Ki Sumerang: Setelah tanganya menepak air sungai tiba-tiba menjadi kering (Kalisat) dan muncul buaya putih yang cukup besar.
- Ki Baluran : Dengan tusukan jarinya kedalam tanah muncullah seekor ular yang besar seperti pohon kelepa.
- Nyi Mertasari: Menunjukan tangannya ke kanan dan ke kiri sambil menyebut banteng, macan, singa, badak, maka berdatanglah binatang-binatang yang di sebutnya itu.
Selesai melakukan sayembara, Ki Panunggul selaku juri melakukan penilaian seperti berikut:
- Hasil Ki JAGABAYA : Kuda berekor panjang dan anjing berbulu tebal tidak di anggap hewan isi hutan melainkan hewan piaraan.
- Hasil Ki SUMERANG : buaya putih yang tidak kecil dianggap hewan laut.
- Hasil Ki BALURAN : Ular sebesar pohon kelapa dianggap hewan biasa dan terdapat di mana-mana.
- Hasil Nyi MERTASARI : banteng, macan, singa, dan badak dinyatakan benar tempatya di hutan dan Nyi Mertasari dinyatakan sebagai pemenang sayembara.
Atas kemenangannya itu, seluruh tanah cakrahan dinyatakan sebagai hak milik Nyi Mertasari, sedang ketiga saudaranya tidak mendapat kekuasaan/hak atas tanah ayahnya itu sedikit pun.
Setelah penyataan dan penyerahan tanah pada Nyi Mertasari, Ki Panunggul bersama Ki Warga pulang untuk menyampaikan laporan kepada Ki Kutub mengenai segala sesuatu yang terjadi pada pembagian tanah cakrahan Ki gede gesik, sejak menemui jalan buntu hingga akhirnya di selenggarakan sayembara yang diterima dengan baik oleh Ki Kutub.
Ketiga anak laki-laki yang gagal/kalah dalam sayembara merasa menyesal dan kecewa sesudah ditinggalkan Ki Panunggul dan Ki Wargal. Tidak lama kemudian datanglah Ki Warsihi dari kedungdalem menghampiri ketiganya dan menanyakan mengapa mereka terlihat gundah, murung dan sedih.
Pertanyaan Ki Warsihi dijawab dengan terus terang, dan diceritakan oleh ketiga anak laki-laki Ki Gede Gesik itu dari awal sampai akhir. Setelah Ki warsihi mengetahui duduk persoalannya, ia menyarankan agar ketiga anak itu segera menghadap Ki Kutub supaya bersedia meninjau kembali keputusan syatembara yang dilakukan Ki Panunggul.
Saran Ki warsihi diterima dengan baik, akan tetap mereka tidak berani menghadap langsung Ki Kutub. Mereka akhirnya meminta bantuan dan pertolongan Ki Warsihi untuk menghadap Ki Kutub menyampaikan ketidak puasan atas hasil sayembara Ki Panunggul. Ki Warsihi menyatakan bersedia dan sanggup menghadap Ki Kutub untuk menyampaikan persoalan itu, dengan permintaan apabila usahanya berhasil/disetujui Ki Kutub, ia meminta diberi bagian tanah cakrahan sebagai tanda jasa.
Dengan penuh keyakinan Ki Warsihi pergi menghadap Ki Kutub. Sesampainya di keraton, ia menyampaikan maksud kunjungannya dan menceritakan ketidak puasan ketiga anak Ki Gede Gesik dalam pembagian tanah cakrahan dengan cara sayembara dan meminta pertimbangan Ki Kutub supaya meninjau kembali keputusan Ki Panunggul. Ki Kutub menyatakan bahwa hal itu bisa saja dilakukan, asalkan Nyi Mertasari sebagai pemenang tanpa paksaan bersedia berunding.
Bukan main gembiranya Ki Warsihi setelah mendengar jawaban Ki kutub. Kemudian Ki Warsihi menemui Nyi Mertasari dan membujuknya supay mau berunding kembali sesama ketiga saudaranya dalam persoalan sayembara. Atas pengaruh Ki Warsihi, Nyi Mertasari menyatakan kesediaannya untuk meninjau kembali keputusan hasil sayembara, dan akhirnya Nyi Mertasari memberikan sebagian tanah cakrahan kepada saudara-saudaranya dan ia menentukan sendiri batas-batas tanah yang diberikan kepada ketiga sadaranya itu.
Ki Jagabaya diberi tanah bagian sebelah utara. Ki Sumirang bagian selatan, Ki Buluran bagian barat laut, dan sisanya yang ada ditengah-tengah adalah bagian Nyi Mertasari sendiri.
Setelah pembagian tanah dapat diselesaikan dan diterima semua pihak, mereka kemudian berunding kembali dan menetapkan Ki Jagabaya sebagai Ki Gede Jagapura, Ki Sumirang sebagai Ki Gede Bayalangu, Ki Baluran sebagai Ki Gede Guwa dan Nyi Mertasari sebagai Ki Gede Gesik sebagai pemimpin didaerah itu, karena keunggulanya dalam sayembara.
Sesuai janji untuk memberikan tanda jasa, Ki Gede Jagapura memberi tanah yang terletak sebelah selatan Jagapura blok Situnggak. Ki Gede Bayalangu memberi tanah di blok Sikacang, dan Nyi Gede Gesik sekalipun tidak menjanjikan memberi tanah juga di blok Sijinten. Adapun Ki Gede guwa tidak memberi tanah, karena letaknya terlalu jauh. Sebagai gantinya Ki Warsihi meminta supaya Ki Gede Guwa bersedia memikul kebutuhan adat penduduk Kedungdalem berupa gamelan panggung. Oleh karena itu hingga sekarang terdapat tanah bagian Kedungdalem, yaitu blok Situnggak, Sikacang, Sijinten dan blok Panggung Wayang.
Nyi Gede Gesik meskipun seorang wanita akan tetapi besar sekali hasratnya untuk menguasai tanah, sehingga mengadakan perluasan dengan menebang hutan yang berada ditepi pantai sebelah timur dari daerahnya yaitu didaerah Luwung (Leuweung/hutan) Gesik (sekarang terletak dikecamatan kerangkeng kabupaten Indramayu).
Setelah Ki Kutub mengetahui Nyi Gede Gesik bermaksud menguasai Luwung Gesik, ia melarangnya. Menurut Ki Kutub tanah itu khusus disediakan untuk para dedemit dan siluman. Oleh karena itu Nyi Gede Gesik tidak jadi melakukan perluasan.
Ki Panunggul sangat tertarik akan kecantikan Nyi Gede Gesik, dan bermaksud menjadikannya sebagai istri. Atas saran Ki Warga, Ki Panunggul menemui lebe embat-embat untuk menikahkannya, akan tetapi Ki Lebe tidak bisa memenuhinya dan disarankan untuk menemui Ki Lebe Bakung, Kemudian Ki Lebe Bakung barsama Ki Panunggul berangkat menuju Gesik untuk melaksanakan perkawinan dengan Nyi Gede Gesik.
Dari perkawinan dengan ki Panunggul, Nyi Gede Gesik mempunyai keturunan dua orang. Anak laki-laki diberi nama Raja Pandita dan yang wanita tidak disebut namanya. Raja Pandita setelah dewasa disayangi oleh Ki Sangkan dan ditugaskan menjaga keamanan didaerah ibunya. Adapun anak yang wanita disayangi oleh lebe bakung, dank arena sayangnya Ki Lebe Bakung meminta pertimbangan pada ki Warga untuk menikahinya.
Sambil tersenyum Ki Warga mengatakan kepada Ki Lebe Bakung demikian “kapi asem temen apa ora lingsem pas ngawinaken m’boke, anake arep dikawin dewek”. Kerana kata-kata ini Ki Lebe Bakung selanjutnya disebut Ki Lebe Asem. Pada akhirnya terlaksana juga pernikahan tersebut.
Dari perkawinan ini Ki Lebe asem mempunyai keturunan dua anak laki-laki. Setelah dewasa kedua anak ini meminta kepada orang tuanya untuk dapat menguasai daerah kekuasaan. Atas saran Ki Warga, tanah kekuasaan Nyi Gede Gesik dibagi dan diserahkan kepada kedua cucunya itu.
• Bagian daerah keradenan kemudian menjadi Gegesik Kidul.
• Bagian daerah Ketembolan menjadi Gegesik Lor.
Oleh karena Ki Lebe Asem mempunyai putra lagi sebanyak dua orang, tanah Nyi Gede Gesik yang telah dibagi menjadi dua itu kemudian dibagi dua bagian lagi. Keradenan (Gegesik Kidul) menjadi karacenan dan kedayunan (Gegesik Wetan); ketembolan (Gegesik Lor) menjadi ketembolan dan kecawetan (Gegesik Kulon). Sebutan tersebut menunjukan cirri-ciri pemimpin dan rakyat dari masing-masing desa sebagai berikut. Gegesik Kidul/Kradena pemimpinnya bersifat keningrat-ningratan, rakyatnya suka/pandai mengarang kata-kata (nganggit omongan).
Pimpinan Gegesik Wetan/Kedayungan menonjol dalam hal baik maupun buruk, rakyatnya suka beramai-ramai tanpa isi. Gegesik Lor/Ketembolan pemimpinnya ditaati bawahan, rakyatnya senantiasa menggerutu dibelakang; sedangkan Gegesik Kulon/Kecawetan pemimpinnya disiplin, rakyatnya senantiasa menyerah tanpa bekas.
Di Gegesik terdapat BENDA KUNO yang lazim disebut ”ZIMAT”, yaitu berupa alat ALAT TENUN KENTRUNG (tenun kampung). Hingga sekarang ZIMAT tersebut masih tersimpan dibalai desa Gegesik Kidul. Benda kuno yang pada mulanya diduga milik Nyi Gede Gesik ini, pada waktu sehabis musim tanam sawah (malam jumuahat KLIWON) diturunkan dari tempat penyimpanannya untuk dibersihkan (dicuci) setelah pencucian benda kuno ini, kuwu bersama pamong desa menjadi kebiasaan atau trdisi mengelilingi perbatasan tanah sawah didesanya masing-masing.
Benda kuno lainnya berupa alat pengangkut, berkepala ular dari kayu disebut “GERUDA”. GERUDA ini kepalanya di buat oleh seorang bernama Ki Sam dari desa bayalangu, sedang alat-alat kelengkapan lainnya dibuat kemudian oleh Ki Siti Sabil dari Gegesik Kidul dan Ki Sali dari Gegesik Kulon. Pada tiap tanggal 25 bulan maulud benda ini diturunkan dari tempat penyimpanannya (dibalai desa Gegesik Lor) dan di bersihkan, untuk diikut sertakan dalam pawai muludan Gegesik.
dicopy dan diperbaiki dari sumber:
http://ilhamgegesik.blogspot.com/2009/10/gegesik-sekilas-sejarah.html
dicopy dan diperbaiki dari sumber:
http://ilhamgegesik.blogspot.com/2009/10/gegesik-sekilas-sejarah.html
Perkawinan Sunan Gunung Jati dengan dewi tala putri Ki Gede Tepak dikaruniai dua orang, yaitu Pangeran Surakaca dan Pangeran Pringgabaya. Pangeran pringgabaya semula hidup di pengembaraannya dijawa tengah, kemudian pulang ke Cirebon. Di tengah perjalanan (dihutan roban pekalongan) ia bertemu dengan pangeran gesang keterunan prabu Brawijaya dari majapahit yang memliki keris bernama si Gagak. Dalam melanjutkan perjalanannya, mereka bertemu dengan ular lempe, ular laut yang sangat berbisa di pantai laut jawa.
Pangeran Pringgabaya berkelahi dengan ular lempe hingga ular tesebut dan dapat dikalahkannya. Setelah dibantingkan, Ular lempe kemudian berubah bentuk menjadi sebuah keris “si lemped”. Sekarang tangkai si lemped berada di desa bayalangu kidul, kerisnya di desa kapringan.
Setelah pangeran pringgabaya dan pangerang gesang tiba dikeraton pakungwati Cirebon, mereka di tugaskan untuk tinggal di dua tempat yang berbeda. Pangeran pringgabaya ditugaskan didaerah kapringan (sekarang termasuk kecamatan krangken, indramayu), dan pangeran gesang di gegesik ( sekarang Gegesik kidul, kecamatan Gegesik kabupaten Cirebon), hingga mereka membangun pedukuhan masing-masing.
Pangeran gesang mempunyai tiga orang putra:
1.Pangeran Durakhman ( Ki Ageng Guwa ).
2.Pangerang Jagabaya ( Ki Jagapura).
3.Nyi Mertsari ( Nyi Ageng Gegesik).
Pangeran pringgabaya berputrakan pangeran dayalautan yang menurunkan keturunan yang bernama Ki Maspa. Selanjutnya Ki Maspa mempunyai anak bernama Ki Warsiki. Dengan demikian Ki Warsiki adalah keturunan keempat Sunan Gunung Jati (cicit P. Pringgabaya).
Sudah menjadi tradisi keratin pangkuwati apabila setiapminggu para ki Gede atau putra-putrinya wajib melaksanakan piket untuk menjaga barang-barang jimat di gedung jinem. Ketika pangeran warsiki (ki warsiki)mendapat giliran piket, kebetulan piketnya bersamaan dengan giliran putrid megu anak ki gede megu. Kesempatan piket bersama ini mereka lakukan dengan besenda gurau, bercanda ria diselingi gelak tawa, sehingga menarik perhatian pinangeran keraton dan memandang keduannya yang sedang dimabuk asmara itu melakukan pelanggaran.
Kejadian itu di laporkan para pinarengan kepada sultan. Sultan marah, lalu mereka dinikahkan dan dibuang kesuatu daerah yang disitu ada kolam yang sangat edalam dan ditepinya terdapat “KEDUNG GEMPOL”. (konon merka ditembak dengan senjata rantai dan terbang terbawa senjata itu, kemudian jatuh ditepi kolam yang dalam).
Ki warsiki dan putri megu dikaruniai dua orang anak yaitu:
1.Pangeran Jaka Dolog atau Ki Slonto, tinggal di kapringan.
2.Pangeran Jalaksana, tinggal di penganjang indramayu. Pangeran jalaksana menikah dengan putri penganjang.
Ki warsiki menikah lagi dengan putri bayalangu, tetapi tidak dikaruniai anak. Ki warsiki didamping kedua istrinya hidup bahagia dan tentram, sehingga saat membangun pedukuhan Kedungdalem yang maju dan penduduknya terus bertambah yang berdatangan dari pedukuhan lain, seperti dari Arjawinangun, Gegesik dan karangsembung. Ki warsiki memimpin dengan adil dan bijaksana, senatiasa menjalin hubungan kerja sama dengan pedukuhan lain.
Setiap sultan Cirebon Mbah Kuwu sangkan atau pangeran cakra buana atau disebut juga H. Abdul Imam berkeliling ke daerah, beliau sering menyempatkan singgah di tempat ki warsiki. Jika tiba waktu sholat, beliau mengambil air wudlu di kolam yang dalam itu. Kemudian ki warsiki member nama pedukuhan itu “KEDUNG DALEM”, artinya tempat orang-orang keraton singgah.
1.KEDUNG = KOLAM DALEM = DALAM (jero – Bhs.JAWA)
2.KEDUNG = TEMPAT SINGGAH DALEM = Orang-oarang keraton (abdi dalem)
Desa kedung dalem terletak kira-kira 30 km sebelah barat laut kota Cirebon, dan termasuk wilayah kecamatan GEGESIK, didirikan oleh Bekel Sal ( H. Abdul Majid), pda tahun 1925.
Bekel Sal adalah seorang tuan tanah yang kaya raya. Ia mempunyai tanah yang sangat luas di daerah Karangampel, Kapetakan, Dukuh. Ia sering membayar Upeti kepda Residen Belanda di Cirebon dengan enam kwintal beras ketan dan dua puluh tujuh ekor sapi. Ia mendapat surat keputusan sebagai kepal desa pada 1925 dari residen belanda. Sebelum menjadi kedungdalem, wilyah initerdiri dari 4 bagian daerah, yaitu :
1.Blok Santrok Lor, dulunya termasuk desa gegesik lor.
2.Blok Santrok Kidul, dulunya termasuk desa gegesik wetan
3.Blok Kedung Tengah, dulunya termasuk desa bayalangu kidul.
4.Blok Kedung lor, dulunya termasuk desa bayalangu Lor.
Nama Santrok berasal dari kata(“nyanting”=nyanggrok/menyangkut), yaitu ketika terjadi perng kedongdong banyak yang meninggal dan mayatnya terbawa hanyut di sungai ciwaringin. Mayat-mayat itu tersangkut di suatu tempat yang akhirnya tempat itu disebut Santrog/Santrok. Mayat-mayat itu di kubur dipekuburan Kibuyut Radegan atau kibuyut sar /ki buyut bandung.
Disebut kibuyut bandung atau kibuyut sar karena di tempat itu ( di sebelah sungai ciwaringin kedung dalem ) terdpat kunuran buyut resijan yang berasal dari bandung, dan buyut sar (nyi sar. Nyi sar berasal dari bode, yang keduanya menetap di kedung dalem.
Pangeran Pringgabaya berkelahi dengan ular lempe hingga ular tesebut dan dapat dikalahkannya. Setelah dibantingkan, Ular lempe kemudian berubah bentuk menjadi sebuah keris “si lemped”. Sekarang tangkai si lemped berada di desa bayalangu kidul, kerisnya di desa kapringan.
Setelah pangeran pringgabaya dan pangerang gesang tiba dikeraton pakungwati Cirebon, mereka di tugaskan untuk tinggal di dua tempat yang berbeda. Pangeran pringgabaya ditugaskan didaerah kapringan (sekarang termasuk kecamatan krangken, indramayu), dan pangeran gesang di gegesik ( sekarang Gegesik kidul, kecamatan Gegesik kabupaten Cirebon), hingga mereka membangun pedukuhan masing-masing.
Pangeran gesang mempunyai tiga orang putra:
1.Pangeran Durakhman ( Ki Ageng Guwa ).
2.Pangerang Jagabaya ( Ki Jagapura).
3.Nyi Mertsari ( Nyi Ageng Gegesik).
Pangeran pringgabaya berputrakan pangeran dayalautan yang menurunkan keturunan yang bernama Ki Maspa. Selanjutnya Ki Maspa mempunyai anak bernama Ki Warsiki. Dengan demikian Ki Warsiki adalah keturunan keempat Sunan Gunung Jati (cicit P. Pringgabaya).
Sudah menjadi tradisi keratin pangkuwati apabila setiapminggu para ki Gede atau putra-putrinya wajib melaksanakan piket untuk menjaga barang-barang jimat di gedung jinem. Ketika pangeran warsiki (ki warsiki)mendapat giliran piket, kebetulan piketnya bersamaan dengan giliran putrid megu anak ki gede megu. Kesempatan piket bersama ini mereka lakukan dengan besenda gurau, bercanda ria diselingi gelak tawa, sehingga menarik perhatian pinangeran keraton dan memandang keduannya yang sedang dimabuk asmara itu melakukan pelanggaran.
Kejadian itu di laporkan para pinarengan kepada sultan. Sultan marah, lalu mereka dinikahkan dan dibuang kesuatu daerah yang disitu ada kolam yang sangat edalam dan ditepinya terdapat “KEDUNG GEMPOL”. (konon merka ditembak dengan senjata rantai dan terbang terbawa senjata itu, kemudian jatuh ditepi kolam yang dalam).
Ki warsiki dan putri megu dikaruniai dua orang anak yaitu:
1.Pangeran Jaka Dolog atau Ki Slonto, tinggal di kapringan.
2.Pangeran Jalaksana, tinggal di penganjang indramayu. Pangeran jalaksana menikah dengan putri penganjang.
Ki warsiki menikah lagi dengan putri bayalangu, tetapi tidak dikaruniai anak. Ki warsiki didamping kedua istrinya hidup bahagia dan tentram, sehingga saat membangun pedukuhan Kedungdalem yang maju dan penduduknya terus bertambah yang berdatangan dari pedukuhan lain, seperti dari Arjawinangun, Gegesik dan karangsembung. Ki warsiki memimpin dengan adil dan bijaksana, senatiasa menjalin hubungan kerja sama dengan pedukuhan lain.
Setiap sultan Cirebon Mbah Kuwu sangkan atau pangeran cakra buana atau disebut juga H. Abdul Imam berkeliling ke daerah, beliau sering menyempatkan singgah di tempat ki warsiki. Jika tiba waktu sholat, beliau mengambil air wudlu di kolam yang dalam itu. Kemudian ki warsiki member nama pedukuhan itu “KEDUNG DALEM”, artinya tempat orang-orang keraton singgah.
1.KEDUNG = KOLAM DALEM = DALAM (jero – Bhs.JAWA)
2.KEDUNG = TEMPAT SINGGAH DALEM = Orang-oarang keraton (abdi dalem)
Desa kedung dalem terletak kira-kira 30 km sebelah barat laut kota Cirebon, dan termasuk wilayah kecamatan GEGESIK, didirikan oleh Bekel Sal ( H. Abdul Majid), pda tahun 1925.
Bekel Sal adalah seorang tuan tanah yang kaya raya. Ia mempunyai tanah yang sangat luas di daerah Karangampel, Kapetakan, Dukuh. Ia sering membayar Upeti kepda Residen Belanda di Cirebon dengan enam kwintal beras ketan dan dua puluh tujuh ekor sapi. Ia mendapat surat keputusan sebagai kepal desa pada 1925 dari residen belanda. Sebelum menjadi kedungdalem, wilyah initerdiri dari 4 bagian daerah, yaitu :
1.Blok Santrok Lor, dulunya termasuk desa gegesik lor.
2.Blok Santrok Kidul, dulunya termasuk desa gegesik wetan
3.Blok Kedung Tengah, dulunya termasuk desa bayalangu kidul.
4.Blok Kedung lor, dulunya termasuk desa bayalangu Lor.
Nama Santrok berasal dari kata(“nyanting”=nyanggrok/menyangkut), yaitu ketika terjadi perng kedongdong banyak yang meninggal dan mayatnya terbawa hanyut di sungai ciwaringin. Mayat-mayat itu tersangkut di suatu tempat yang akhirnya tempat itu disebut Santrog/Santrok. Mayat-mayat itu di kubur dipekuburan Kibuyut Radegan atau kibuyut sar /ki buyut bandung.
Disebut kibuyut bandung atau kibuyut sar karena di tempat itu ( di sebelah sungai ciwaringin kedung dalem ) terdpat kunuran buyut resijan yang berasal dari bandung, dan buyut sar (nyi sar. Nyi sar berasal dari bode, yang keduanya menetap di kedung dalem.
Suatu hari pada abad ke 14 Nyi Mas Ratu Rara Mangi oleh ayahandanya diperintahkan untuk meninggalkan kerato pajajaran untuk mengembara ke berbagai negeri. Ayahanda nyi mas ratu rara mangi adalah iki ageng sepuh, seorang penasehat di lingkungan kerajaan. Adapundasar pertimbangan perintah tersebut adalah karena kiageng sepuh mendapat firasat bahwa tidak lama lagi keratin pajajaran bakal runtuh, sirna dari mayapada, dan prabu siliwangi dan para sesepuh negeri malakukan ngahiyang ke alam lain.
Dalam perjalanan pengembaraannya, nyi mas ratu rara mangi tiba di pondok Begawan danu warsih, dan memohon dijadikan muridnya. Namun begawn danuwarsih tidak mengabulkannya, melainkan member saran agar nyi mas ratu rara mangi berguru kepada mbah kuwu carbon di pedukuhan Cirebon.
Di tengah belantara menuju ke pedukuhan Cirebon, nyi mas ratu rara mangi bertemu dengan jaka semirat yang bermaksud sama untuk berguru ke mbah kuwu carbon. Kepada jaka semirat, nyi mas ratu rara mangi bahwa dirinya juga hendak menuju kearah yang sama, namun disampaikan pula ia hanya bersedia menjadi murid mbah kuwu carbon asalkan calon gurunya itu dapat menglahkan ilmu kesaktiannya.
Mendengar penuturan nyimas ratu rara mangi, jaka semirat menjadi tersinggung karena wanodya yang baru di kenalnya itu secara tidak langsung telah menghina mbah kuwu carbon orang yang di muliakannya, oleh karena itu nyi mas ratu rara mangi ditangtang berperang tanding. Dan terjadilah bitotama yang seruh, masing-masing mengeluarkan ilmu kedigdayaannya.
Akhir perang tanding yang memakan waktu lama itu dimenangkan oleh nyi mas rartu rara mangi. Kemudian jaka semirat menyarahkan diri dan bersedia menjadi kauula. Namun kesedian jaka semirat di tolak nyi mas ratu rara mangi dengan halus, bahkan sang ratu membisikan ketelinga jaka semirat bahwa bahwa dirinya jatuh cinta kepadanya dan ingin hidup bersama. Ia juga mengatakan bahwa menguji ilmu kesaktian mbah kuwu carbon bukan berarti melawannya. Setelaha jaka semirat memhami apayang diutarakan nyi mas ratu rara mangi, keduannya bermesraan saling mencintai bagaikan sudah berkenalan lama.
Selagi keduaanya memadu kasih, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan seorang kakek tua rentan yang meminta tolong untuk mengambilkan tongkatnya yang hanyut di sungai. Di minta pertolongan demikian, keduannya sangat gembira, karena mereka juga bermaksud akan mandi di sungai. Maka tanpa banyak catur lagi, dua insan yang sedang dimabuk asmara itu segera terjun ke dalam sungai. Sambil bercanda mereka berebut tongkat milik sang kakek. Namun tongkat yang direbutkan itu tidak bisa dijamah karena licinseperti seokor belut dan seolah-olah mempermainkanya.
Oleh sebab itu, jaka semirat dan nyimas ratu rara mangi menjadi sangat penasaran dan terpaksa menggunakan lmu kesaktiannya untuk mendapatkan tongkat itu, akan tetapi meski keduanya telah menguras ilmu kesaktiannya, tongkat itu masih tetep trapung dan tidak bisa diambilnya, bahkan tongkat itu seperti mengejeknya. Kejadian itu berlangsung lama hingga jaka semirang dan nyimas ratu rara mangi merasakan kelelahan yang luar biasa hingga akhirnya mereka menyerah dan tergeletak di tepi sungai.
Setelah sadar, jaka semirat dan nyi mas ratu rara mangi bukan main kagetnya, karena tongkat yang diprebutkan itu sudah berada di tangan pemliknya yang berdiri tegak di dekatnya. Kemudian kakek tua dengan mengacugkan tongkatnya mengatakan bahwa dirinya adalah mbah kuwu carbon yang sengaja menyamar. Setelah itu mbah kuwu carbon mempersilahkan nyi mas ratu rara mangi apabila hendak menjajal (mengadu) ilmunya.
Mendengar penjelasan tersebut nyi mas ratu rara mangi tersipu malu, dan tanpa sungkan –sungkan ia menyembah hormat kepada mbah kuwu carbon serta memohon maaf atas kelancangannya dan minta diangkat menjadi muridnya.
Setelah nyi mas ratu rara mangi menjadi murid mbah kuwu, ia sangat akrab dengan nyi mas ratu ayu pangkuwati putrid mbah kuwu (yang selanjutnya nyi mas ratu ayu pangkuwati menjadi istri sunan gunung jati). Oleh sunan gunung jati, nyi mas ratu rara mangi diangkat sebagai seorang pepatih andalan yang di kenal kedigdayaanya.
Pada suatu waktu, nyi mas ratu rara mangi diperintahkan untuk mengawal istrinya nyi mas ratu ayu pangkuwati mengunjungi pondok nyi ageng celancang yang baru di perbaiki. Namun ditengah perjalanan kereta yang di tumpangi permaesuri sultan Cirebon itu di hentikan ki lelanang bekas murid mbah kuwu yang pernah jatuh cinta kepada nyi mas ratu ayu pangkuwati.
Menyaksikan tingkah laku yang tidak sopan dariki lelanang. Nyi mas ratu rara mangi yang bertanggung jawab atas keselamatan nyi mas ratu ayu pangkuwati, tanpa membung waktu lagi menyerangnya. Maka terjadilah perang tanding yang sangat seru dengan berakhir keklahan ki lelanang yang keceluk(terkenal) diksura itu.
Pada usia sesepuhnya nyi mas ratu rara mangi bermukim di sebuah pondok di tengah hutan bersama suaminya jaka semirat, dan selalu mengusuhkan diri kepada allah swt. Hampir seluruh waktu yang dimiliknya selalu digunakan untuk berdzikir dan untuk membaca al –Quran. Dipondoknya itu tidak jarang untuk oarng yang datang untuk belajar mengaji. Kepada yang baru belajar diajarkan dua kalimah syahadat terlebih dahulu, sebagai tanda menjadi pemeluk ajaran islam. Selanjutnya hutan di sekitar pondok nyi mas ratu rara mangi di perintah kan oleh sunan gunung jati untuk dibabad dan dijadikan sebuah pedukuhan. Setelah menjadi sebuah pedukuhan hutan itu diberi nama kalideres, berasal dari kata KALI+DERES. Kali mempunyai dua pengertian, yaitu :
- Kali = dua (bhs jawa), yaitu dua kalimah syahadat (syahadatain). Yaitu kalimah yang menjadi dzikiran/wiridan Nyi Mas Ratu Mangi. Kali = dua, dengan pengertian bahwa kita selaku manusia harus mempunyai keseimbangan, yaitu dua sisi yang harus seimbang “lahir dan batin, dunia dan akhirat, iptek dan imtaq”, yang dua-duanya harus seimbang.
- Deres = nderes/mengkaji/membaca/mempelajari, yaitu disamping nderes/mengkaji/membaca/mempelajari AL-QURAN, juga harus mempelajari dua hal di atas.
Jadi nama kalideres mengandung makna bahwa setiap manusia harus meyakini, mendalami dan mengamalkan ajaran yang terkandung dalam dua kalimah syahadat dan Al-quran. Nyi Mas Ratu Rara Mangi mempunyai keyakinan bahwa jika seseorang ingin mencapai hidup bahagia yang hakiki, maka harus selalu membaca/mempelajari/mengkaji dua hal, yaitu hal duniawi dan ukhrowi (dunia akhirat), lahir dan batin. Keduanya harus seimbang, sehingga manusia akan memiliki dan menguasai iptek dan imtaq.
Setelah Kalideres resmi menjadi sebuah pedukuhan, diangkatlah Nyi Mas Ratu Rara Mangi oleh Mbah Kuwu Cerbon menjadi gegeden Kalideres, yang bergelar Nyi Gede Kalideres, disebut juga Nyi Mas Sesangkan, Nyi Mas Pakungwati atau Nyi Mas Runde Pakungwati.
Ketika wafat, Nyi Gede Kalideres di makamkan di kompleks Makam Gunung Jati Astana Cirebon. Yaitu di luar dekat tembok sebelah barat dengan urutan : Makam Ki Gede Bayalangu, Ki Gede Jagapura, Nyi Gede Kalideres, Ki Gede Kedokan/Karangampel, Ki Gede Weru, dan Nyi Gede Gegesik (di blok pamungkuran).
Pekerjaan Nyi Mas Ratu Rara Mangi dalam menekuni/mempelajari dan mengajarkan ilmu agama islam diteruskan oleh anak-cucunya sampai sekarang. Penrus itu antara lain : Ki Mas’ady syahir, Ki Ahmad nasa’i melanjutkan perjuangan kiyai Rasim. Ki Ibad melanjutkan Ki H Usman, Ki Asrowi dan Ki Yasin melanjutkan Ki H Setimol, Ki Nurrochman melanjutkan Kiyai Ngarpat, dan masih banyak lagi generasi muda yang berjuang dan berjihad dalam pengembangan agama islam.
Ki Surya angkasa adalah Putra dari istri selir Prabu Siliwangi yang datang merantau dari Garut (Padjajaran) untuk mencari dua saudaranya pangeran walangsungsang(ki kuwu sangkan) dan nyi mas rara santang yang sdang menuntut ilmu di Cirebon ketika singga di astanajapura. Ia mendapatkan ilmu aji ”bandung bandawasa”. Kemudian menuju kawasan hutan yang didalamnya terdapat sebuah sungai yang penuh dengan pasir disebelah barat laut untuk babad hutan, dan dijadikan pedukuhan sebagai tempat dan “wedi”(bhs.jawa)berarti pasir. Ia kemudian dikenal sebagai ki gede kaliwedi.
Di samping Gellar kigede kaliewdi. Ki surya angkasa banyak memiliki gelar dan julukan. Konon ia mempunyai sebutan hingga 101 nama, seperti ki tulus, ki jopak, ki agus, ki syeh mangkujati. Oleh karena ia saudara ki kuwu sangkan, maka apabila warga desa kaliwedi mengadakan “hajat ngunjungan” selalu lebih dahulu diawali dari astana gunung jati. Ketika dalam perjalanan menuaikan ibadah haji ke mekkah dengan menaiki “macung”. Ki surya angkasa mendapat serangan raksasa ombak sailon. Dengan mengguankan “bedama pusaka” (zimat) tombak sigagak, ia tusukkan tombak itu ke perut raksasa hingga mati dan tombaknya tetap menancap di peutnya sedangkan werangka(sarungnya )dapat di bawa pulang, dan masih hingga sekarang.
Sebelum mati raksasa ombak sailon itu sesumbar akan membalas dendam kepada anak keturunan ki surya angkasa yang menunaikan ibadah haji melalui jalan laut dan melewati ombak sailon. (oleh karena itu orang kaliwedi pantang menunaikan ibadah haji melui jalan lautan, namun sejak pemerintah menggunakan jasa angkutan kapal udara. Masyarakat kaliwedi banyak yang menunaikan ibadah haji). Setelah pertarungan yang melelahkan itu. Ki surya melajutkan perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji ke mekah. Sekembalinya dari mekah ia mendapat gelar Haji Syeh Mangkuraji.
Dalam sebuah perjalanan kedesa heleut, ia sempat melihat putri heleut sedang mandi dikolam tanpa sehelai benang pun melilit di tubuhnya. Melihat keadaan demikian timbullah birahi ki surya angkasa. Oleh karena ia seorang sakti mandraguna nafsu birahinnya dapat diredam. Namun akibat birahinya itu putrid heleut menjadi hamil. Lama-kelamaan kandungan sang putri semakin besar hingga lahirlah seorang anak laki-laki. Rasa malu pun menguluti diri sang putri karena mempunyai anak tidak berayah. Untuk menghilangkan rasa malu itu, dengan penuh haru, anak yang baru dilahirkannya itu dibuang ke sungai ciwaringin. Di sebuah desa(sekarang desa gegesik kulon) seorang perempuan sedang mencari ikan di sungai ciwaringin.
Perempuan yang bernama Nyi Cupang itu tiba-tiba dikagetkan dengan benda terapung (kambang bhs. Jawa) yang lewat persis dihadapanya. Dia semakin setelah benda itu dibuka ternyata didalamnya berisi seorang bayi laki-laki yang masih merah. Bayi merah yang kemudian di beri nama limbang (artinya ditemukan di kali dan kembang) itu dibawanya pulang dan di pelihara sebaik-baiknya sebagai anugerah yang Maha Kuasa, karena ia telah tinggal cukup lama seoarang diri setelah ditinggal mati oleh suaminya.
Putra-putri Ki Surya ada lima orang:
- Ki Limbang, kuwu di ujungsemi
- Ki Penganten, yang meninggal dunia terkena racun beberapa saat sebelum menikah dengan anak Ki Selapada
- Ki Rawiyah
- Ki Jeman
- Ki Tresna
Zimat-zimat Kaliwedi:
- Wayang semar, dibuat dari kulit ular putih penghuni daerah kaliwedi yang kalah perang melawan ki surya angkasa. Ular tersebut ular tersebut meminta sehidup semati dengan kisurya angkasa, dan merelakan kulitnya dijadikan zimat.
- Terbang (rebana)
- Keris si jangkung
- Tombak si gagak (tinggal werangkahnya), senjata yang digunakan ki surya angkasa menumpas raksasa ombak sailon ketika pergi menunaikan ibadah haji.
- Primbon suprada
- Tumbak cis panetep jagad
Zimat-zimat tersebut diatas masih ada dan disimpan oleh juru kunci pemakaman mbah buyut kaliwedi.
Tahu( larangan-larangan) anak cucu kaliwedi yang hingga kini masih di percaya oleh sebagian warganya :
- Kawin dengan orang bunder
- Memakai kerincingan, kuncungan gewengan keranjang
- Mengucapkan kata” fulus”akan tetapi harus diganti dengan kata”ciyos” (bhs. Sunda)
Pada tahun 1984 desa kaliwedi dimekarkan menjadi dua desa :
1. Desa kaliwedi kidul
2. Desa kaliwedi lor
dicopy dan diperbaiki dari sumber:
http://ilhamgegesik.blogspot.com/2009/10/kaliwedi-sekilas-sejarah.html
1. Desa kaliwedi kidul
2. Desa kaliwedi lor
dicopy dan diperbaiki dari sumber:
http://ilhamgegesik.blogspot.com/2009/10/kaliwedi-sekilas-sejarah.html




